Perbedaan, kenapa harus menjadi penghalang? 19 October 2007
Posted by sannywannatell in Indonesiaku, My Opinion.Tags: budaya, Indonesia, multi culture, perbedaan
trackback
Meskipun ga ikut ngerayain Lebaran, tiap tahun saya memperhatikan, pasti ada perbedaan tentang kapan sebenarnya hari raya bagi umat Islam itu dirayakan.
Ada yang merayakan sesuai dengan tanggal yang tertera di kalender, tapi ada pula yang merayakan sehari sebelumnya.
Well, tulisan ini tidak sedikit pun bermaksud mempermasalahkan kebijakan dari masing2 pemeluk agama.
Karena seperti judulnya, perbedaan itu ga harus menjadi penghalang di antara kita, masyarakat Indonesia yang majemuk ini.
Seperti dikatakan oleh salah satu tokoh agama Islam yang saya lupa namanya, ‘diharapkan bagi semua pemeluk agama Islam untuk menghormati perbedaan dalam perayaan Idul Fitri’ (kira2 seperti ini, maaf, ga ingat dengan jelas juga kalimatnya seperti apa) memang yang namanya perbedaan itu harus dihormati.
Ga hanya perbedaan agama, tapi juga suku dan ras yang lebih dikenal dengan istilah SARA.
Kadang saya sedih ngeliat anak2 bangsa ini bertengkar karena mempermasalahkan perbedaan yang sebenarnya justru menjadi keunikan Indonesia sendiri. Perseteruan Poso yang dilatarbelakangi perbedaan agama, juga pertikaian2 lain yang didasari ketidakmampuan dalam menghormati perbedaan.
Suatu weekend, saya pulang ke Cikarang (lagi magang di Jakarta) dan berniat untuk berenang di kolam renang Jababeka yang merupakan fasilitas dari kampus.
Namun karena saya sudah cukup lama tidak di Cikarang, saya tidak mengetahui informasi bahwa kolam renang itu sedang dalam proses perbaikan.
Saya merasa sedikit kecewa, dan karena sudah berniat untuk berolahraga, saya memutuskan untuk keliling2 daerah Jababeka menggunakan sepeda.
Saya pun melewati jalan menuju daerah kolam renang yang masih hijau tapi ramai menjelang sore hari.
Niatnya sih cuma menikmati kehijauan dan kealamian alam Cikarang setelah hampir satu minggu berkutat menghadapi pemandangan gedung2 tinggi dengan udara yang penuh polusi di Jakarta.
Perasaan damai dan senang itu pun lenyap begitu saja ketika saya melewati sekelompok cowo2 yang nongkrong di pinggir jalan itu.
Mereka meneriaki saya: “eh..Cina ya?” dan entah apa lagi kata2 yang mereka buat mirip bahasa Mandarin untuk meledek saya.
Dalam hati, saya dongkol banget…
Tapi saya berlalu saja dan pura2 tak mendengar dan mengacuhkan mereka.
Lah…emang kenapa kalo saya WNI keturunan dengan wajah yang masih kental tampang Chinese nya?
Wong saya juga Warga Negara Indonesia kok….
Saya punya KTP Cikarang dan mungkin saya malah punya rasa cinta Indonesia yang lebih besar dari mereka.
Memangnya kenapa kalo mata saya sipit?
Kan itu karunia Tuhan yang ga bisa saya pilih2, masih untung juga dikasih mata buat melihat.
Singkatnya, saya bete banget sore itu…
Dan cerita sore itu ditambah dengan kejadian2 lain yang berlatar belakang perbedaan yang berujung pada pertikaian menginspirasi saya untuk menulis opini ini…
Kita ini sama2 orang Indonesia…
Indonesia yang majemuk, yang punya slogan ultimate in diversity….
Ke depan nya kita mau jadi seperti apa, kalau sebagai masyarakat Indonesia saja kita tidak bisa menghormati perbedaan yang menjadi daya tarik bangsa ini?
Kita seharusnya bangga dengan segala perbedaan yang menjadikan negara kita ini kaya….
Sekali lagi, postingan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun atau pun sok menggurui Anda, para pembaca. Ini hanya ungkapan pikiran dan perasaan seorang penulis yang merasa bahwa perbedaan itu harus dihormati dan tidak harus menjadi penghalang.


gw setuju ma loe, n gw ga setuju dengan pemisahan SARA..
orang2 yang mempermasalhkan sara adalah cuma orang2 BODOH, n ofang BODOH da sewajarnya bicara seenaklnya sendiri…
pokoknya hidup dah, apaan kek….
he…..
full support san, kalo perlu gw support media partner malah…he…