Sebuah Salam di Akhir Tahun 30 December 2007
Posted by sannywannatell in Cuap-cuap sang Author, Opinion.Tags: iklan, inspiratif, tahun baru
trackback
Sudah agak lama juga saya ga menulis di blog ini, tersita kesibukan dan kondisi tubuh yang tidak memberikan sedikit waktu untuk merenung dan menghasilkan inspirasi baru untuk dituangkan dalam sebuah tulisan yang mempunyai makna (mungkin bermakna bagi yang baca, tapi mungkin juga tidak….sepenuhnya tergantung pada interpretasi pembaca…. hehe…. sedikit nyolot….)
Sedikit cerita nih, kalo selama beberapa waktu belakangan, dari terakhir kalinya saya mem-publish tulisan di blog ini, saya mempunyai cukup banyak kesibukan sebagai intern student yang diberi cukup tanggung jawab untuk membantu kelancaran tugas di tempat magang (atau kerennya internship place) dan university student yang harus memikirkan thesis atau yang lumrah dikenal dengan istilah ‘skripsi’ sebagai media untuk memberikan saya gelar seorang sarjana (meskipun sampai sekarang masih belum jelas juga gimana juntrungnya…..hua….). Ditambah kondisi kesehatan yang agak2 drop dan tidak pernah merasa benar2 fit, yang ternyata disebabkan oleh bakteri2 salmonella yang dengan jahatnya betah berlama2 dalam usus halus saya (umumnya sih penyakit ini dikenal dengan istilah tifus) sehingga saya harus benar2 istirahat dalam waktu yang cukup lama karena jumlah bakterinya sudah cukup banyak (atau lebih dari banyak ya….??!!)
Tapi benar juga kata pepatah, kalo semua hal yang terjadi dalam hidup kita itu pasti ada hikmahnya….Contoh nyata adalah dengan sakitnya saya dan harus istirahat di rumah, saya jadi punya banyak waktu di depan televisi (sebelumnya di kost-an malah tidak ada hari untuk menonton televisi, karena memang tidak ada ‘tipi’ di kamarnya…hehe..) dan menonton iklan2 baru yang pada akhirnya menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini…
Sebelumnya, saya ingin mengklarifikasi dulu, bahwa tulisan di blog ini tidak memuat tujuan untuk lebih mempopulerkan produk dari iklan yang menginspirasi saya itu. Adapun penulisan nama produk iklan itu, hanya untuk lebih memperjelas penyampaian tujuan dari penulisan post ini, agar pembaca pun bisa melihat sendiri dan mengerti apa yang dituliskan…. (hihi….ribet ga sih bacanya? Kalo iya, maap deh…)
Sebelum pendahuluannya semakin panjang dan ngalor-ngidul (hehe, nyadar juga…), kita langsung aja deh… Iklan yang menginspirasi saya menulis post ini adalah iklan Tolak Angin yang baru, dengan bintang iklan Butet Kartarajasa dan Agnes Monica. Selain mengiklankan si produk sendiri, dimana produknya termasuk kategori produk jamu, yang notabene adalah asli dari Indonesia, iklan ini juga menampilkan beberapa kesenian dan kebudayaan Indonesia yang akhir2 ini marak dibicarakan karena adanya pengakuan dari negara lain. Beberapa kesenian dan kebudayaan itu adalah Reog Ponorogo, batik tulis, angklung, tari Pendet, Hombo Batu, kuda lumping, dan tari Folaya.Konsep dari iklan ini sendiri adalah mengajak kita semua; Bangsa Indonesia; untuk mengenal dan mencintai kebudayaan kita yang buanyaak itu, termasuk jamu sebagai salah satu produk asli Indonesia, agar ke depannya masyarakat Indonesia tidak kehilangan identitas sebagai bangsa.
Yang menarik dan menginspirasi saya adalah, bagaimana cara iklan itu dikemas dan penyampaian pesan bahwa kesenian dan kebudayaan yang ditampilkan dalam iklan itu adalah asli milik Indonesia dan jangan diaku-aku ato dicaplok oleh negara lain. Satu contoh yang benar2 mengena adalah, ketika batik tulis dan cara pembuatannya ditampilkan sebagai salah satu kekayaan Indonesia, Agnes mengucapkan 2 patah kata saja yang artinya sangat dalam dan ‘sedikit menyindir’; yaitu “Trully Indonesia”.
Sedikit saya perjelas deh…. batik kita telah diaku-aku oleh salah satu negara tetangga kita yang memiliki slogan pariwisata “trully Asia” jadi… hanya dengan mengucapkan 2 patah kata “Trully Indonesia” ketika batik tulis dan proses pembuatannya ditampilkan, Agnes secara ga langsung juga menyindir si negara tetangga kita itu…Saya senang, bahwa masih ada orang2 kreatif di negara ini yang dengan caranya sendiri berhasil menciptakan iklan yang bisa menyampaikan banyak pesan sekaligus. Pesan kepada masyarakat Indonesia untuk mencintai budayanya sendiri, pesan (atau sekaligus sindiran) kepada negara lain untuk tidak mengaku-aku kebudayaan Indonesia, dan pesan komersial untuk produknya sendiri sebagai tujuan utama dari iklan itu sendiri. Salut buat pihak kreatif di belakang iklan ini….
Satu hal lagi yang ingin saya angkat adalah, iklan ini adalah contoh tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh anak bangsa kita untuk melindungi kekayaan budaya Indonesia dengan cara yang halus dan boleh dibilang ‘lebih intelektual’ daripada hanya berdemonstrasi menyalahkan beberapa pihak (bukan berarti saya bilang kalo demonstrasi itu ga boleh lo….). Dengan cara yang elegan, iklan ini boleh dibilang cukup berhasil.
Selain menyampaikan rasa salut saya terhadap pihak kreatif iklan itu, saya juga ingin menyampaikan sebuah salam di akhir tahun. Salam kepada semua bangsa Indonesia, salam untuk tetap menjaga keutuhan bangsa Indonesia ini. Mungkin bisa kita jadikan resolusi menyambut tahun yang baru, agar kita sendiri sebagai satu bangsa, sebagai satu kesatuan, tetap menjaga keutuhan bangsa kita ini, dan tidak menjadikan perbedaan yang seharusnya ‘memperkaya’ kita menjadi sebuah penghalang dan penghancur di masa depan.Kenapa salamnya seperti ini? Karena saya sempat menonton sebuah acara dialog di sebuah televisi bahwa ada spekulasi di tahun 2045, Indonesia tidak akan ada lagi alias hanya tinggal cerita sejarah. Hal ini bisa terjadi karena bangsa ini tidak lagi punya kebudayaan sebagai identitas bangsa, dan tidak ada lagi rasa saling menghormati di antara rakyat Indonesia sendiri yang menyebabkan negara Indonesia terpecah belah seperti yang terjadi dengan Rusia. (duh….amit2 deh….ga kebayang kalo nanti mo keluar kota aja harus pake paspor dan visa segala, karena udah bukan 1 negara lagi…. hiiii…..)
Mari kita sambut tahun yang baru dengan resolusi dan harapan baru Indonesia akan menjadi semakin baik…. Amin…
Salam hangat di akhir tahun,
Sanny


Comments»
No comments yet — be the first.