jump to navigation

GOR Djarum 16 February 2008

Posted by sannywannatell in Cuap-cuap sang Author, Road to Semarang & Kudus.
Tags: , , , ,
trackback

GOR Djarum

Arrived at Djarum sport building at lunch time, we were provided with some delicious foods. Guys… if you noticed Djarum logo at that building, you’ll see a shuttle cock. That’s because this building especially provided for Indonesian badminton development.

Tiba di GOR Djarum pada waktu makan siang, kami pun disuguhi banyak makanan lezat disana. Jika diperhatikan,pada logo Djarum yang terukir di gedung ini terdapat shuttle cock. Ini dikarenakan GOR ini memang dibangun khusus untuk perkembangan badminton di Indonesia. Di sini, para remaja-remaja berbakat yang mau bersungguh-sungguh menggeluti dunia ini akan dilatih dan digembleng dengan baik.

We, the participants, have seen how big this building and completed with enough facilities a badminton player needed. And we were also seen their practice. But, before that, let’s see what other information we got from Pak Handojo just after we finished our lunch.

Kami, para peserta, telah melihat betapa luas gedung yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh seorang pemain badminton. Kami juga berkesempatan melihat latihan mereka. Tapi sebelumnya, mari kita lihat dulu, informasi tambahan apa yang kami dapatkan dari presentasi Pak Handojo setelah kami menikmati makan siang.

There are 3 types of cigarettes, which are cigarette, white cigar and kretek. The cigarette is made by covering tobacco with the tobacco leaf, while the white cigar using the mixture of tobacco and flavor. I believed for kretek cigarette, you already know it. =)

Ada tiga jenis rokok, yaitu cigarette, white cigar dan rokok kretek. Cigarette itu sendiri adalah tembakau yang dibungkus dengan daun tembakau, sementara white cigar adalah rajangan tembakau yang dicampur dengan flavor. Nah, kalo untuk rokok kretek, saya yakin dan percaya bahwa kalian yang mengikuti cerita perjalanan ini pasti sudah ‘kenal baik’ dengan produk ini. =)

On 21 April 1951 Oei Wie Gwan bought a cigarette factory named N.V. Moeroek then changed the name to Djarum. This factory used to produce handmade cigarette until they bought cigarette machine around year 1970 and on year 1976, they launched Djarum Super product, which is a machine made cigarette. Right now, PT Djarum held by Bambang and Budi Hartono, the sons of Oei Wie Gwan.

Tanggal 21 April 1951, Oei Wie Gwan membeli sebuah pabrik rokok yang bernama N.V Moeroek, kemudian menggantinya dengan nama Djarum. Pabrik ini memproduksi rokok buatan tangan sampai mereka membeli mesin pembuat rokok pada tahun 1970an. Dan pada tahun 1976, mereka meluncurkan produk Djarum Super yang merupakan rokok buatan mesin. Saat ini, PT Djarum dipegang oleh anak-anak Oei Wie Gwan, Bapak Bambang dan Budi Hartono.

From January 2007 record, Djarum have employed around 145,000 people. In Kudus, they have 70,632 employers and there were 74,920 people for marketing department. With those number of employees, Djarum can produce around 39.457 billion cigarettes per year or around 131.536 million cigarettes per day which contributed Rp 7.642 trillion per year for the tax or around Rp 25.475 billion per day. What a wonderful number….

Dari catatan bulan Januari 2007, Djarum memperkerjakan sekitar 145.000 orang. Di Kudus saja mereka mempunyai 70.362 karyawan dan masih ada 74.920 lagi yang bekerja di bagian marketing. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu, Djarum telah menyumbang cukai Rp 7,462 triliun per tahun atau sekitar Rp25,475 miliar per harinya. WOW…

Djarum was also got several awards such as zero accident production on 2002 and got 87% from external audit for their safety working environment on 2004. On 2005 they got a golden flag and increasing the percentage of safety working environment untill 93% on 2007. Those awards proofed Djarum consideration of their worker safetiness.

Djarum juga mendapat beberapa penghargaan seperti produksi dengan zero accident pada tahun 2002. Pada audit external tahun 2004, mereka meraih 87% untuk tingkat keselamatan kerja yang berhasil ditinggatkan menjadi 93% pada tahun 2007. Mereka juga berhasil mendapat bendera emas pada tahun 2005. Penghargaan yang didapat Djarum menunjukkan tingginya kepedulian Djarum terhadap keselamatan para pekerjanya.

Djarum sport building built as Djarum consideration of Indonesian badminton development. That’s also because Mr. Bambang and Budi Hartono like badminton. In this area, young badminton players trained and prepared for national and international competitions. Around the badminton field, we can see many signed badminton shirts from well-known badminton players.

djarumgor_2.jpg

GOR Djarum ini dibangun sebagai wujud kepeduliannya terhadap perkembangan badminton di Indonesia, juga karena Pak Bambang dan Budi Hartono adalah para pecinta badminton. Di area ini, para pemain-pemain muda dilatih dan dipersiapkan menghadapi kompetisi nasional dan internasional.Di sekeliling ruangan latihan, kita bisa melihat banyak kaos-kaos para pemain bulutangkis terkenal Indonesia, lengkap dengan tanda tangan mereka.

This visit was the last opportunity for Blog Jurnalistik OnLAin finalists stay on Kudus. We should continue the journey to Semarang then back to Jakarta. Before leave this area, each of us got some present from Djarum, a handbag consist of Djarum Super, calendar and a special shirt with statement ‘Kudus, the Kretek City’. Thanks to Djarum…

Kunjungan ke GOR Djarum ini merupakan kesempatan terakhir kami menjejakkan kaki di Kota Kudus. Kami pun harus melanjutkan perjalanan ke Semarang dan kemudian kembali ke daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebelum pulang, kami dibekali oleh-oleh dari Djarum, sebuah handbag berisi 1 slop Djarum Super, kalender 2008 dan sebuah kaos bertuliskan ‘Kudus, Kota Kretek’. Terima kasih Djarum

Now, we need to continue the journey to Semarang. So, see you later… =)

Comments»

No comments yet — be the first.