Kudus, Kota Wali 16 February 2008
Posted by sannywannatell in Cuap-cuap sang Author, Road to Semarang & Kudus.Tags: central java, jawa tengah, kudus, Menara Kudus
trackback
Finally, after five parts of the story of the 2nd day of the journey told about the adventure in Semarang, we arrived at Kudus….
Akhirnya, setelah 5 bagian cerita hari kedua perjalanan kami ke Jawa Tengah bercerita tentang petualangan di Semarang, kami pun tiba di Kota Kudus…
Our first stop in Kudus was the restaurant of Hotel Grypta, the hotel we would sleep that night. Arrived almost 4 p.m. we enjoy our ‘delayed lunch’. That was because there was traffic jam in the way from Semarang to Kudus. Anyway, the lunch was still delicious enough eventhough it was a little bit delayed (or was it tasted more delicious because of it was delayed then we felt very hungry? Dunno…. =p )
Perhentian pertama di kota Kudus ini adalah restoran Hotel Grypta, yang juga merupakan hotel tempat kami menginap. Tiba hampir jam 4 sore, kami pun menikmati ‘makan siang yang tertunda’ karena adanya si Komo lewat (alias macet) dalam perjalanan dari Semarang ke Kudus. Eeeniwei, meskipun tertunda, makan siang itu tetap terasa nikmat di lidah kami (atau terasa lebih nikmat karena makan siangnya tertunda dan kami merasa lebih lapar? Ga tau dech…. =p )
Finished with the lunch, we were given some time to take a bath and preparing ourselves to go to the next stop, Menara Kudus.
Setelah menikmati makan siang, para peserta diberikan kesempatan untuk mandi dan berganti kostum (halah, bahasanya…emangnya badut pake ganti kostum?hehe…) Dan petualangan pun dilanjutkan dengan mengarah ke Menara Kudus.
FYI (For Your Information), to get to Menara Kudus, we need to have quite a long ‘journey’ using Wisata Karya Bus and continue it using ojek. Usually, there was special bus which would take the visitors to the menara Kudus area, but because we arrived late of afternoon (exactly, almost night), the only left transportation was ojek. But it was okay, we could also enjoy Kudus using those transportations. Before each finalist got to the ojek, all of us were quite amazed with the beauty of Kudus’ sunset sky. There was a ‘triangle looks alike’ sign in the sky, which also believed to be Djarum’s inspiration in creating the logo for Djarum Black. (In Djarum Black logo, the ‘A’ letter was changed with triangle shape.)
Ternyata untuk sampai ke Menara Kudus itu, kami harus melalui perjalanan cukup panjang dengan bus Wisata Karya yang tangguh, dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek. Biasanya, ada bus khusus yang akan membawa para pengunjung ke lokasi menara, tapi karena kami sampai di lokasi perhentian bus sudah cukup sore, transportasi alternatif yang tersedia adalah ojek. Asik juga loh, menikmati senja di Kudus dengan keliling naik ojek. Bahkan, sebelum naik ke ojek masing2, para peserta dibuat cukup tercengang dengan keindahan langit sore Kudus yang dihiasi matahari terbenam, yang konon kabarnya menjadi inspirasi Djarum dalam membuat logo produk Djarum Black. (Coba lihat segitiga yang terbentuk di langit sore Kudus, huruf ‘A’ pada merk Djarum Black pun diganti dengan lambang segitiga.)
With the ojek, we arrived at Menara Kudus area which is located in Kelurahan Kauman, around 1.5 km from the center of Kudus City (Alun-alun/ Simpang Tujuh). At that time, it was the time for Moslem to do Magrib praying then the Moslem finalists did their praying there. Since I am not a Moslem, I couldn’t enter the mosque area and just took the picture in front of the menara. (I was only enter the area until the place where people take their wudhu)
Dengan ojek masing-masing, kami tiba di area Menara Kudus yang terletak di Kelurahan Kauman, kira-kira 1,5 Km ke arah barat dari pusat kota Kudus (Alun-alun / Simpang Tujuh). Ketika kami tiba disana, saatnya bagi umat Muslim menunaikan ibadah sholat Magrib, dan para peserta yang beragama Islam pun memasuki area dan melakukan ibadah. Karena saya bukan seorang Muslim, saya tidak dapat memasuki area mesjid dan kuburan Sunan Kudus, dan hanya mengambil foto2 dari luar lokasi mesjid. (saya hanya bisa masuk sampai ke lokasi para Muslim mengambil air wudhu)
Menara Kudus is a building with high archeology and historical values. It was an old building with acculturated culture, Hindu-Java and Islam. Menara Kudus was built by Syeh Ja’far Shodiq (a.k.a Sunan Kudus) on 1685 AD.
Menara Kudus merupakan bangunan monumental yang bernilai arkeologis dan historis tinggi. Dari aspek arkeologis, Menara Kudus merupakan bangunan kuno hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus dibangun oleh Syeh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo) pada tahun 1685 M yang disimbolkan dalam candrasengkala “Gapuro rusak ewahing jagad” yang bermakna tahun Jawa 1609 atau 1685 M.
With 17 meters height, this building architecture is look alike with the temples from Majapahit era located in East Java (ex: Candi Jago) and Menara Kulkul at Bali. This building being a symbol for Sunan Kudus’ tolerance in spreading Islam and appreciating the Hindu-Java people as well.
Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus, yang tingginya sekitar 17 meter, mirip dengan candi-candi Jawa Timur era Majapahit – Singosari (misalnya Candi Jago) dan juga menyerupai menara Kulkul di Bali, sehingga Menara Kudus menjadi simbol “Islam Toleran”, dalam arti Sunan Kudus menyebarluaskan agama Islam di Kudus dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu-Jawa yang dianut masyarakat setempat. Bentuk fisik Menara Kudus adalah tinggi dan ramping yang dibangun dengan bahan batu-bata merah yang disusun dan dipasang bertumpukan tanpa semen perekat.
Menara Kudus building cannot be separated with the Menara Kudus Mosque (Al-Aqsho Mosque) and the Sunan Kudus grave, because the geography-function of these three buildings were inherent with the Kudus City’s history.
Bangunan Menara Kudus tidak dapat dipisahkan dengan Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsho) dan Makam Sunan Kudus karena secara geografis-fungsional ketiganya merupakan satu kesatuan yang inherent dengan sejarah berdirinya Kota Kudus.
Almost forget to tell you, since I couldn’t enter the mosque area and took the pictures needed (also because we were arrived at night and there were not enough light to took the good picture), I browsed google and found out the authorized site of Kudus government institution and took some picture and news I needed. Then, exactly there were some picture which the site’s courtesies are. (thank you and I am also asking permission to use the pictures…)
Oh ya, hampir lupa, karena saya tidak bisa memasuki area Mesjid dan mengambil foto2 untuk ditunjukkan kepada para pembaca (juga karena kita sampai di area pada malam hari dan tidak cukup penerangan untuk mengambil foto2 yang bagus), saya pun berkonsultasi ke Mbah GUGEL (www.google.com) dan menemukan situs resmi pemerintahan Kudus, dan menyadur bahan2 yang saya butuhkan. Jadi, ada beberapa foto yang merupakan courtesy situs tersebut. (terima kasih dan mohon izin dipakai foto2nya…)
The following pictures are originally I took using the Nikon 801. Please enjoy it…
Kalo foto2 berikut, ini asli loh hasil foto saya menggunakan si kamera Nikon 801… Silahkan dinikmati (kayak makanan ajah….)
After Menara Kudus, we visited Jenang Mubarok, the place which provided the consumers with specific food from Kudus to be brought for the lovely family at home.
Selesai dengan Menara Kudus, rombongan pun mengunjungi Jenang Mubarok, sebuah tempat yang menyediakan makanan khas Kudus untuk dibawa sebagai oleh-oleh bagi keluarga tercinta di rumah.
Then, we have our dinner at Soto Kudus Pak Denuh. And back to the hotel to enjoy the good night sleep.
Kemudian, kami menikmati makan malam di Restoran Soto Kudus Pak Denuh. Dan kembali ke hotel untuk menikmati tidur malam yang nyenyak.
Don’t disturb my good night sleep, please… The next story about Djarum factory visit will be told at the next post…. Then, just wait guys…. =)
Tolong jangan diganggu ya tidur nyenyak saya… Cerita tentang kunjungan ke Pabrik Djarum akan segera saya post kok…. Jadi tunggu aja yah…. =)
*Source: Situs Resmi Kabupaten Kudus (There are 2 pictures from this side)








Comments»
No comments yet — be the first.