jump to navigation

Djarum Factory Visit, SKT and SKM 16 February 2008

Posted by sannywannatell in Cuap-cuap sang Author, Road to Semarang & Kudus.
Tags: , , , ,
trackback

djarumskt_5.jpg

Thank you for not disturbing my good night sleep at Hotel Grypta… Then we can begin the story of the third day. Woke up at 5.30 a.m. on Monday, 21 January 2008, I took a bath then prepared for Djarum factory visit. With Mbak Esa Putri, my roommate, around 6.50 we went to the hotel lobby where the other finalists have gathered and enjoyed the breakfast.

Terima kasih banyak tidak mengganggu tidur nyenyak saya di Hotel Grypta… Kita sudah memasuki hari ketiga perjalanan. Terbangun jam 5.30 pada hari Senin, 21 Januari 2008, saya pun mandi dan mempersiapkan diri untuk kunjungan ke pabrik Djarum. Bersama Mbak Esa Putri, teman sekamar, kami pun menuju lobi hotel tempat para peserta lain sudah berkumpul dan menikmati sarapan.

If you are used to consume cigarette, have you paying attention to the package? If you did, can you explain the meaning of the ‘36% + Rp 35,-/pcs’ or ‘22%+Rp 7,-/pcs’? Well, if you have no idea about that, please continue reading this post, because I’ll tell you later…

Kalau Anda seorang penikmat rokok, pernahkah Anda memperhatikan bandrol yang terdapat pada kemasan rokok itu? Kalau pernah, bisakah Anda jelaskan maksud tulisan ‘36% + Rp 35,-/btg’ atau ‘22%+Rp 7,-/btg’ tersebut? Well, kalau benar2 tidak punya ide tentang maksud tulisan itu, lanjutkanlah membaca postingan ini, karena akan dijelaskan nanti…

During the way to the factory, we were accompanied by Pak Teguh Waspada, supervisor for Flavor Purchasing Department of PT Djarum, who told us the story of cigarette in Kudus and the history of Djarum. We got much interesting information from him. Thank you Pak Teguh…

Selama perjalanan ke pabrik, kami ditemani oleh Pak Teguh Waspada,supervisor Departemen Pembelian Flavor PT Djarum, yang menceritakan sejarah rokok kretek yang ditemukan pertama kali di kota Kudus. Kami mendapat banyak cerita dan informasi menarik dari beliau.Terima kasih Pak…

The first tobacco found in America and Indonesian people believed the first cigarette seller was Roro Mendut. She sold cigarette for collecting money to pay her mulct.

Tembakau pertama ditemukan di Amerika, sementara orang Indonesia percaya bahwa Roro Mendut adalah penjual rokok pertama di Indonesia. Dipercaya bahwa Roro Mendut menjual rokok untuk membayar denda atas perbuatannya.

About kretek cigarette, the founder of this kind of cigarette was H. Djamhari on 1880. He was cigarette consumer who also has asthma. Usually, he applied clave oil to make him felt more comfortable when he got asthma. Then he got an idea to mix the clave flower with tobacco before he enjoyed his cigarette. This mixture is finally known as kretek cigarette.

Tentang rokok kretek, jenis rokok ini ditemukan oleh H.Djamhari pada tahun 1880. H. Djamhari adalah seorang penikmat rokok yang mempunyai penyakit asma. Biasanya, dia mengoleskan minyak cengkeh untuk membuatnya lebih nyaman ketika serangan asmanya kambuh. Lalu H. Djamhari pun mendapat ide untuk mencampurkan bunga cengkeh dengan tembakau dalam lintingan rokok yang akan dinikmatinya. Campuran bahan inilah yangkemudian dikenal sebagai rokok kretek karena konon ketika dibakar, jenis rokok ini menimbulkan suara ‘kretek kretek’.

Not only accompanying us on the bus, Pak Teguh was also accompanied us in the factory visit. From SKT until Djarum sport building, he was not tired giving us the detail information.

Pak Teguh tidak hanya menemani kami selama di dalam bus, tetapi sepanjang kegiatan kunjungan ini. Dari SKT sampai ke GOR Djarum, beliau tak henti-hentinya membagikan informasi berharga kepada kami.

The first stop of this factory visit activities was SKT (Sigaret Kretek Tangan = Hand Made Cigarette) unit. We saw the process of making a cigarette manually using human hand. In this place, there were around 2400 women in one unit who made the cigarette together with their couple and Djarum has 32 SKT units. One person made the cigarette using manual machine, then the couple cut the edge of each cigarette to make it tidier. A couple can produce 600 cigarettes per hour and SKT unit can produce up to 60 million cigarettes per day. What a wonderful number…

djarumskt_2.jpg

Perhentian pertama dari kunjungan kami adalah unit SKT (Sigaret Kretek Tangan). Satu unit (brak) SKT mempunyai kapasitas 2400 pekerja dan Djarum mempunyai 32 brak. Di sini kami melihat proses pelintingan rokok yang dikerjakan oleh pasangan-pasangan pekerja wanita. Salah satu dari pasangan itu akan melinting rokok menggunkan mesin sederhana, kemudia pasangannya menggunting ujung2 rokok itu agar rapi. Sepasang pelinting rokok bisa menghasilkan 600 rokok dalam waktu 1 jam, dan unit SKT ini bisa memproduksi sampai 60 juta batang per harinya. WOW…

Hand Made Cigarette Process

Some of the tour participants have tried how to make the cigarette manually, including me myself. Here the picture of me with the cigarette I made.

Beberapa peserta tur juga ikut belajar bagaimana melinting rokok, termasuk saya. Saya pun sempat berfoto dengan rokok hasil lintingan sendiri.

Me with the Cigarette I made

After the cigarette ready to be package, the worker will take it to the quality control. The under quality cigarette will be return to the worker for re-processing.

Setelah dilinting, pasukan-pasukan rokok itu pun dibawa ke sebuah meja quality control untuk mengetahui apakah rokok itu telah layak jual. Rokok yang lintingannya kurang rapi akan dikembalikan kepada sang pelinting untuk diproses ulang.

Passing the quality control, the cigarettes would be brought to the packaging site. There were more couple workers which are ready to package those cigarettes in to Djarum Coklat box. While seeing this packaging process, the finalists got information about the statement in the cigarette box.

Quality control

Melewati meja quality control, para pasukan rokok ini pun dibawa ke bagian packaging. Banyak lagi pasangan pekerja yang siap mengemas para pasukan ini ke dalam bungkusan yang bermerk Djarum Coklat. Ketika melihat proses pengemasan inilah, para peserta diberi penjelasan tentang tulisan yang terdapat di bandrol harga itu.

The ‘22%+Rp 7,-/pcs’ on Djarum Coklat box indicated the money Djarum need to pay to the government as the tax. Djarum Coklat, a handmade cigarette gave 22% of its price as the tax plus Rp 7,- for each cigarette. The cigarette produced by machine (such as Djarum Super, Djarum Black and LA) gave 36% from its price plus Rp 35,-/pcs as the tax. A handmade cigarette contributes smaller tax than the machine made cigarette to protect the workers.

Tulisan ‘22%+Rp 7,-/btg’pada bungkus Djarum Coklat itu menunjukkan nominal uang yang harus dibayarkan produsen rokok kepada pemerintah sebagai pajak cukai. Djarum Coklat yang merupakan rokok buatan tangan dikenakan pajak sebesar 22% dari harga jualnya dan potongan tambahan Rp 7,- per batang dalam setiap bungkusan. Sedangkan pada produk Djarum yang diproduksi menggunakan mesin (seperti Djarum Super, Djarum Black atau pun LA) akan terlihat tulisan ‘36% + Rp 35,-/btg’ pada bandrolnya. Sama seperti yang dimaksudkan pada bandrol harga Djarum Coklat (atau produk buatan tangan lainnya), 36% menunjukkan persentase cukai yang harus dibayar dari harga jual, dan tiap batangnya dikenakan potongan Rp 35,-. Rokok yang diproduksi dengan tangan dikenakan potongan lebih kecil untuk melindungi pekerja-pekerjanya.

After see how the cigarette made manually, we visited a place for Djarum CSR (Corporate Social Responsibility) activity, Pusat Pembibitan Tanaman Djarum (Djarum Plantation Center). In this place, Djarum plant some seeds which will be distributed to the Indonesian society.

Setelah melihat proses pembuatan rokok secara manual, kami pun mengunjungi salah satu tempat kegiatan Djarum Bakti Lingkungan, yaitu Pusat PembibitanTanaman Djarum. Di sinilah Djarum mengembangkan bibit-bibit tanaman yang kemudian dibagikan kepada masyarakat Kota Kudus dan ke masyarakat lain yang mengadakan program penghijauan di lingkungannya. Tempat ini sangat asri dan teduh karena banyaknya pohon-pohon besar yang menghalangi teriknya sinar sang surya. Sungguh sangat damai berada di pusat pembibitan ini. Oh ya, beberapa mahasiswa jurusan pertanian juga bisa melakukan praktek pembibitan dan mengembangkan benih-benih tertentu.


Comments»

No comments yet — be the first.