jump to navigation

Maunya opo toh?? 21 November 2008

Posted by sannywannatell in Cuap-cuap sang Author, My Opinion.
Tags: , , ,
trackback

Rada heran juga menghadapi kejadian kayak gini.

Mungkin karena baru pertama kali ngadepin orang2 ga penting seperti ini.

Memang sejak pertama kali memasuki dunia kerja nyata, saya berkecimpung di sebuah divisi Media and Communication.

Untuk bagian communication, bukan sesuatu yang terlalu baru buat saya. Nah, bagian media nih, yang merupakan hal yang bener2 baru dan kadang2 suka ngagetin.

 

Bisa dibilang, kerjaan kali ini berhubungan dengan yang dikenal orang dengan nama keren media relations.

Saya akui, memang belum terlalu berpengalaman berhadapan dengan orang2 media.

Berbagai jenis media, dengan berbagai jenis praktisi dan berbagai jenis sikap dan prilaku.

Memang banyak praktisi media besar yang bersikap dengan elegan dan cerdas.

Ga pertama kali juga menghadapi praktisi media yang aneh2 dan bersikap kurang etis…

 

Cuma, baru pertama kali ini ngadepin oknum praktisi media yang bener2 ga tau malu dan ga beretika.

Hari rabu lalu, ada seminar internasional yang mengharuskan kami mengundang praktisi2 media.

Praktisi media dari media X, belon2 sudah meminta “ongkos transportasi”, dan menunjukkan sikap “saya tidak akan meliput kalo tidak ada ongkos jalan”. Kami memang sadar lokasi kami agak jauh untuk dijangkau dari Jakarta. Tapi rasanya, siapapun akan menunjukkan sikap kurang hormat kalo menghadapi orang2 dengan cara kurang beretika seperti praktisi media X itu.

 

Ternyata ga cukup sampe disana, baru saja, kira2 30 menit yang lalu, bapak praktisi media X itu menelpon ke telpon kantor dan meminta “ongkos cetak” untuk memuat pemberitaan acara.

Saya langsung ilfil…fil…fil…fil.. se-ilfil-ilfil-nya…

Ya elah? Maunya opo toh??

Mau jadi apa media di Indonesia kalo semua praktisi media nya seperti ini? Bukannya tugas media adalah menyebarkan informasi ke masyarakat dengan objektif??

 

Untuk bapak praktisi Media X, maaf sekali saya tidak tertarik untuk memenuhi permintaan Bapak.

Masih banyak media lain yang lebih kompeten dan bonafid.

 

Hanya kecewa mengetahui begini sikap beberapa oknum praktisi media yang seharusnya bertanggung jawab mencerdaskan anak bangsa secara objektif…

Comments»

No comments yet — be the first.