Mind Map 3 December 2008
Posted by sannywannatell in Academic, Cuap-cuap sang Author, My Opinion.Tags: hidup, mind map, renungan, teknologi
trackback
Istilah mind map atau “peta pikiran” memang bukan istilah yang baru. Sebuah metode yang diajarkan dan dipelajari untuk membuat kerja otak lebih efisien dan mampu mengingat hal2 yang banyak dengan cara yang lebih mudah.
Meskipun sudah pernah mendengar istilah ini, saya sendiri ga pernah terlalu tertarik mempelajari mind map.
Tapi ketika seorang dosen kemaren ngomong mau mengajarkan mind map di sebuah kelas, saya pun meminta izin untuk ikut. Yah, secara bisa belajar langsung, ga perlu membaca buku (hehe, emang rada malas, tapi kalo bisa diajarin dan kemudian ada yang kurang jelas, baru konsultasi ke buku2 yang tersedia
)
Di kelas itu, saya bergabung dengan beberapa anak tahun pertama yang berasal dari Aceh. Selama 2 jam 30 menit pembelajaran, kita diterangkan tentang sejarah mind map, kekurangan dan kelebihan standard note dan mind map serta radiant thinking. Kemudian kita sendiri juga langsung latihan untuk membuat mind map dan belajar tentang radiant thinking.
Ternyata mind map dan radiant thinking sendiri bisa banyak membantu kita agar lebih efisien dalam menggunakan waktu dan kertas. Mind map juga menunjukkan seseorang secara individu karena mind map itu sendiri seperti sebuah hasil karya yang paling mungkin dimengerti oleh sang pembuat sendiri. Ga semua orang bisa mengerti mind map yang dibuat oleh orang lain, karena berhubungan dengan “asosiasi” dan pola pikir orang itu sendiri.
Di akhir pelajaran, kita juga diperkenalkan sebuah software yang membantu untuk membuat mind map dan juga mengefisiensikan pekerjaan kita dalam brainstorming dan membuat suatu keputusan. Keren ya kemajuan teknologi sekarang, banyak banget alat2 pendukung yang bisa memudahkan pekerjaan manusia (haha, katro banget sih….
)
Beberapa pelajaran yang bisa saya petik adalah, jangan pernah menganggap enteng kemampuan otak kita. Karena sebenarnya otak manusia mempunyai kemampuan yang tidak terbatas, hanya pembatasan2 dan pengotak-kotakan yang selama ini membuat kita merasa kurang. Juga, seberapa pun tinggi teknologi yang telah tercipta, tetap harus disadari ‘mereka’ itu adalah hasil ciptaan manusia yang dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Jangan sampai yang terjadi adalah sebaliknya, manusia dikuasai oleh teknologi.



Comments»
No comments yet — be the first.