jump to navigation

Stigma 28 April 2009

Posted by sannywannatell in My Opinion.
Tags: , ,
trackback

Disclaimer: Posting ini tidak bermaksud menyinggung siapapun yang mempunyai cerita yang mungkin sama dengan apa yang dibahas. Posting ini sepenuhnya hanya ungkapan pikiran tanpa maksud menyudutkan pihak manapun.

Stigma yang gw maksud kali ini adalah stigma sosial yang sering menjadi masalah di masyarakat. Menurut gw pribadi, yang namanya stigma itu bisa bener bisa ga, tergantung dari sudut mana kita melihat, tapi karena kecendrungan banyak orang yang menganggap sesuatu tentang sesuatu, muncullah pendapat umum yang diterima oleh masyarakat.

Sayangnya, yang gw lihat, apa yang menjadi pendapat dalam masyarakat sering mengacu pada hal yang negatif. Atau seringnya, melihat hanya dari yang negatifnya saja.

Kita ambil satu contoh saja  stigma yang sering beredar di masyarakat, keberadaan anak hasil hubungan sebelum nikah, atau yang sering juga di sebut MBA (married by accident). Pendapat yang muncul di pikiran orang2 kebanyakan adalah, yang namanya MBA itu pasti jelek, anak hasil MBA bisa jadi anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Yang MBA adalah orang2 kurang bermoral yang ga bisa menahan nafsu mereka sampai tiba waktu yang tepat dan ‘halal‘ untuk mereka. Dan berbagai macam alasan negatif lainnya yang sering kita dengar.

Tapi…

Kenapa ga mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda? Melihat hal positif yang ada dari hal yang memang notabene sudah negatif. Pelaku MBA masih bisa dikategorikan orang yang bertanggung jawab. Dengan sang pria mengakui kesalahan dan menikahi wanita yang dihamilinya. Dengan si wanita bersedia bertanggung jawab tidak membunuh bayi yang sudah ada di kandungannya, dan bersedia melahirkan untuk memberi kehidupan yang menjadi hak si anak.

Berapa banyak wanita yang juga melakukan hubungan sexual sebelum menikah, yang akhirnya hamil, tapi memilih jalan aborsi untuk menyelamatkan martabat diri dan keluarga? Tentu saja jumlahnya tidak bisa dijawab dengan pasti, karena dengan tindakan ini, mereka menutupi kenyataan, dan membuat orang lain tidak mengetahui perbuatan mereka. Apa perbuatan seperti ini bisa dibilang benar? Kalau sama2 tidak benar, kenapa cuma orang2 pelaku kesalahan yang berani menebus kesalahan mereka yang di cap negatif?

Mungkin memang susah mencari keadilan di tengah pandangan dan tudingan bermacam pihak yang mempunyai kekuatan lebih besar dari sang pihak pelaku kesalahan. Tapi ga ada salahnya, kalau kita memulai dari diri sendiri, untuk belajar melihat sesuatu dengan sudut pandang yang objektif. Karena gw yakin, ga ada satu pun orang yang senang bila di cap apapun yang negatif secara subjektif oleh siapapun.

Comments»

1. 'rvan - 30 April 2009

kayaknya ga ada yg namanya married by ACCIDENT, kalo udah menghasilkan anak, itu bukan kecelakaan. karena sebagian besar yang dilakukan atas dasar sama2 tau, mungkin bisa disebut married karena “kebobolan”. dan mereka married, bener kata sanny, kalo udah merid berarti tu orang betanggung jawab. dan orang ga bisa dinilai dari satu kesalahan aja.