Kualitas Film dan Bioskop Indonesia

Terinspirasi nulis postingan ini setelah 2 minggu berturut2 nonton film Indonesia di 21 Lippo Cikarang. Yah secara bioskopnya Cikarang, pelem2 yang apdet pun emang pelem2 Indonesia,mau ga mau deh.

Setelah nonton Setan Pocong Jompo yang ber-genre horor tapi ternyata lebih banyak komedinya, hari Minggu kemaren nonton Darah Janda Kolong Wewe. Bukan karena suka nonton horor, tapi dari 4 pelem yang ada, yang dianggap agak jelas sih itu. Maksud “jelas” disini adalah udah jelas genre film horor. Secara gambar posternya aja serem amat. Berbeda dengan 3 pelem lain yang bergenre entah romantis entah komedi entah apa.

Ternyata, poster film sendiri ga menjamin isi cerita. Wong posternya serem amat, ternyata film-nya malah vulgar dan terang2an mempromosiin Trio Macan.

Judul Kolong Wewe juga cuma seperti kedok doank, karena lebih dari 50% durasi film diisi dengan adegan vulgar yang cenderung mesum. Saya kok jadi mempertanyakan, apa mereka pengen buat film bokep tapi karena takut ga lulus sensor jadi ditambahin dan make kedok film horor?

Bener2 cuma awal dan akhir cerita doank yang ada horornya. Di tengah2 sih cuma dikiiiiiitttt ajah, biar ga lari dari judul kali yak?? Dan entah kenapa, adegan2 vulgar yang mereka tampilkan bisa lulus sensor. Padahal Trio Macan di film itu ga pernah make celana yang lebih panjang dari celana yang hanya nutupin selangkangan. Minimmmm banget baju2 yang dipakai. Mana ada adegan yang hanya pakai (maaf) bra saja. Ckckckck… Ga salah juga banyak penonton yang bawa anak kecil memilih keluar di tengah2 film itu.

Ngomong2 soal penonton dengan anak kecil, saya juga jadi mempertanyakan kualitas bioskop Indonesia. Ga cuma sekali dua kali saya melihat anak2 di bawah umur diizinkan masuk ke dalam studio yang notabene memutar film yang tidak sesuai untuk konsumsi umur di bawah 17 tahun. Entah itu film yang memang menunjukkan adegan ‘dewasa’ atau ya itu tadi, film dengan genre horor. Mental anak yang masih labil kan bisa rusak kalo terus menerus dicekoki horor. Dan ternyata petugas2 bioskop mengizinkan saja anak2 itu masuk dan menonton film yang sudah jelas tidak cocok untuk jadi tontonan mereka.

Terlepas dari orang tua yang pada akhirnya membawa anak mereka keluar studio karena ternyata film yang bergenre horor malah berujung mesum, seharusnya ada kesadaran dari pihak pengelola bioskop dan TENTUNYA para orang tua, agar tidak membiarkan anak2 menonton film yang bukan film anak. Kenapa ga ngajak anaknya nonton kartun atau film Indonesia yang memang cerita dan perannya untuk anak2? Merasa film seperti itu masih kurang? Ga ada yang maksa kan membawa anak ke bioskop. Kalo emang ga ada film yang cocok untuk anak, ya ga usah nonton.

Saya hanya sedih, membayangkan apa jadinya generasi masa depan yang dari dini tidak dijaga mentalitas dan jenis tontonan-nya. Ditambah dengan semua sinetron yang ada sekarang, mengekspos cinta dan romantisme berlebihan, kekerasan yang seperti jadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari dan semua aspek lain yang berlebihan dari kenyataan.

Apa ga pernah ada yang mikir kalau film, sinetron dan apapun tayangan televisi adalah media yang paling gampang mempengaruhi anak2? Tanpa intensi langsung dari anak pun, mereka bisa terpengaruh tayangan TV yang memang sepertinya ga bisa dikontrol. Entah sedang diasuh baby sitter yang menonton TV, atau di ruang tunggu, TV tetap menjadi media yang sangat mudah mempengaruhi audience nya, entah si audience mau atau tidak dan dalam keadaan sadar ataupun tidak.

Apa sebegitu pentingnya mencari keuntungan dengan memproduksi tayangan yang disukai masyarakat tanpa memikirkan efek dari tayangan itu? Apa uang memang membutakan hati nurani para manusia yang berlari mengejar nominal uang?

Advertisements

4 thoughts on “Kualitas Film dan Bioskop Indonesia

  1. Mungkin ga sih, para pembuat film tidak membuat target pasarnya, jadi ya siapapun yang maw nonton silahkan tonton aja. ga peduli maw anak kecil kek yang nonton. Karena mereka hanya melihat parameter rating, bukan kalangan apa yang menonton.

    Salam kenal

    • Kalau tidak membuat target pasar sih tidak mungkin, karena penjual harus menentukan siapa yang mau dijadikan calon pembeli.

      Tapi kalau mereka hanya mementingkan rating, itulah yang sedang terjadi.
      Asal rating tinggi, hal lain ga dipedulikan. Apa yang menonton sesuai target market juga masa bodoh, yang penting jualan laku.

  2. Setuju banget! Di layar televisi sekarang banyak program acara yang SEBAIKNYA tidak ditonton anak-anak tapi malah diputar di jam-jam dimana anak sekolah biasanya menonton (Sore/Malam selesai sekolah). Sementara acara-acara yang bersifat pengetahuan malah diputar di atas jam 9, diskusi agama saat Subuh… yah gimana anak-anak mau nonton?

  3. yg kyk gitu mah gx usah d tanya lagi…
    tapi ngomong” boleh minta bantuan gx??
    bwt tugas skolah nih…
    bedanya film bioskp Indonesia sama Hollywood dari segala faktor apa ya??
    butuh bgt jwbannya…
    kirim k E-mail saya ya..
    d tunggu…
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s