Batas

Well, bulan Mei ini kayaknya blog ini berubah menjadi film review blog 😛

But anyway, this film did surprised me and really really out of my expectation, thus I really want to review it and encourage you to watch the best Indonesian movie I ever watched in the last 6 months.

Ok ok ok… Kita sedang membahas film Indonesia, jadi mari kita kembali menggunakan bahasa ibu 🙂

Seperti biasa, saya tidak memaksa untuk meneruskan membaca, karena tentunya dalam review ini akan ada spoiler yang akan merusak jika Anda ingin menyaksikan sendiri film ini. Kalau mau nonton dulu baru balik baca postingan ini juga boleh kok 😉

Produser dan pemain utama film ini adalah Marcella Zalianty yang berperan sebagai Jaleswari, seorang wanita muda yang bekerja di sebuah lembaga yang mempunyai program CSR (Corporate Social Responsibility) untuk meningkatkan pendidikan di daerah perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. Dalam kondisi hamil muda dan baru kehilangan suami, Jales berangkat menempuh perjalanan yang cukup melelahkan untuk mencapai daerah yang didiami oleh suku Dayak.

Begitu sampai, Jales yang sedang menelpon menggunakan telepon genggamnya, langsung ‘disambut’ oleh Borneo, cucu panglima adat yang merebut HP-nya karena penasaran ingin berbicara dengan lawan bicara di seberang sana. Penjemputnya, Adeus, mengenalkan Jales sebagai guru yang akan mengajar di sekolah anak2 suku Dayak. Entah mengapa semua guru yang dikirimkan oleh lembaga tempat Jales bekerja, tak pernah bertahan lama, sehingga anak2 di daerah itu tidak bisa mengecap pendidikan yang layak.

Di sana, Jales tinggal bersama Nawara, istri sang panglima adat yang sudah lama memisahkan diri dari suaminya. Nawara juga menerima seorang gadis yang ditemukan kehilangan ingatan dan histeris di daerah dekat perbatasan, yang kemudian diberinya nama Ubuh (artinya Sembuh).

Kepolosan dan ketulusan anak2 yang sangat ingin belajar membuat Jales akhirnya bersedia mengajari mereka meskipun tujuan awalnya hanyalah mencari tahu apa akar masalah terhentinya program CSR. Dia pun mengubah kebiasaan belajar di dalam ruangan dengan belajar di alam dan langsung memberi contoh2 dari kejadian2 yang terjadi di sekitar mereka.

Jales berinteraksi cukup intens dengan Adeus, sang guru yang mundur untuk mengajar anak2, dan Arif, seorang polisi batas yang dikenalnya dari pertama menjejakkan kaki di tanah suku Dayak tersebut. Dia pun akhirnya berhasil membuat Ubuh, wanita yang ditemukan masyarakat setempat, percaya dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Kemudian terungkap bahwa Otig, seorang pendatang yang berprofesi sebagai pedagang kelontong di daerah itu juga adalah seorang ‘pedagang TKI gelap’.

Konflik memanas karena Otig yang merasa terancam mulai meneror Jales dan menghasut warga untuk mengusir wanita itu dari tanah mereka. Nawara, Adeus dan sang panglima-lah yang membela Jales dan membuatnya bertahan.

Singkat cerita, dengan bantuan Arif, Otig berhasil dibekuk dan tugas Jales pun selesai. Ia kembali ke Jakarta, mengadakan seminar tentang hasil petualangannya, dan ketika melihat foto ekspresi Borneo dan anak2 lain yang diajarnya, Jales pun memutuskan kembali ke tanah Dayak, menetap dan melahirkan anaknya disana.

 

Bisa dibilang, film ini benar2 di luar ekspektasi saya. Sempat kecewa setelah menonton Mirror Never Lies, sebelum masuk ke 21, saya sempat berpikir Ok, nothing to loose. Kalau bagus syukur, ga ya sudah… Secara, nonton 3 film Indonesia sebelumnya, meskipun bagus, jujur saja masih kebanting dari film2 produksi luar negeri.

Menurut saya, naik turun alur cerita ini cukup bagus, dengan durasi hampir 2 jam, saya ga sempat merasa bosan menonton, meskipun scene yang disajikan tidak terlalu banyak mengekspos keindahan alam Indonesia. Dialog2nya pun tidak lebay, lugas, tegas dan tidak mellow marshmallow meskipun tetap ada romantisnya.

Two thumbs up for Marcella Zalianty 🙂

 

Ps: Jadi penasaran nonton film produksi Marcella yang dicekal karena judul kontroversial-nya LastRI 😉
*Gambar saya comot dari 21cineplex
Advertisements

2 thoughts on “Batas

  1. Yah, film lagi :D.

    Kalau film Indonesia, paling akan segera tayang di layar kaca. Karena itulah bahkan VCD-nya pun tidak laku di pasaran, biarpun bukan bajakan.

    • Iyah… Film lagi 😀
      Lagi keranjingan nonton 😆

      Untuk film Indonesia yang 1 ini beneran ga rugi deh nonton di bioskop. Jauh beda dari film2 bergenre horor vulgar atau romantisme lebai yang sekarang banyak beredar.

      *kok jadi promosi ya 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s