Hati-hati Berutang Budi

Utang budi itu sebenarnya apa sih?

Yang saya tau sih, utang budi itu terjadi ketika seseorang memberikan bantuan non-materi kepada kita, yang tidak dapat kita bayar secara persis sama karena tidak ada alat ukurnya.

Bukankah manusia adalah makhluk sosial? Jadi wajar saja untuk saling membantu, lalu mengapa harus berhati-hati berutang budi kepada orang lain?

Papa saya sering berkata “tidak ada hal yang gratis di bumi ini. Yang tidak pamrih hanya kasih sayang orang tua pada anaknya. Jadi hati2 menerima pemberian orang, selalu telaah apa maksud dan tujuannya. Siapa pihak yang diuntungkan.”

Mungkin terdengar berat, curigaan atau apapun namanya, tapi ternyata yang Papa bilang benar.

Saat ini kita menerima bantuan orang, suatu saat pasti kita harus ‘membayar’, entah itu diminta atau tidak oleh orang yang membantu kita. Tapi  yang namanya utang budi pasti menjadi sesuatu yang tidak akan bisa hilang begitu saja.

Seorang lelaki berbuat baik kepada wanita pujaannya. Sang wanita tak pernah meminta, tapi tentu saja hal itu juga tidak gratis. Sang lelaki sebenarnya berharap agar wanita pujaan mau membalas cintanya dan bisa menjalin hubungan. Sampai mereka menjadi suami istri pasti semua yang diberikan sang lelaki ada maksud dan tujuannya.

Mungkin ada yang menepis dengan apa yang dinamakan cinta sejati, tapi menurut saya, tetap, sang lelaki mempunyai harapan tertentu ke sang wanita.

 

Kembali ke awal bahasan, kenapa saya merasa perlu untuk mengeluarkan statement untuk berhati2 untuk punya utang budi ke orang?

Ehem, tentu berdasarkan pengalaman pribadi 😀

Dan saya menggarisbawahi, terlebih utang budi yang berhubungan dengan profesionalisme di dunia kerja.

 

Pasti tidak ada yang mau utang budi terhadap seseorang mengusik profesionalime di dunia kerja kan? Karena utang budi di masa lalu, batas2 profesionalisme terpaksa dikaburkan dengan alasan utang budi dan pertemanan.

Misalkan, A memberitahu B tentang adanya lowongan pekerjaan di perusahaan tempatnya bekerja. B tertarik dan memasukkan lamaran lewat A. A melanjutkan lamaran kepada pihak terkait di perusahaan dan setelah melalui proses seleksi B diterima dan bergabung di perusahaan yang sama.

Waktu berlalu sinetron banget sih bahasa gw, terjadi sesuatu yang membuat hubungan pertemanan A dan B terusik oleh profesionalisme di dunia kerja. Ada pihak yang menganggap A bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan B atas nama referensi yang diberikan A.

A melangkahi batas profesionalime dan mengutamakan azas pertemanan untuk berbicara dengan B. Masalah tak dapat diselesaikan dan A melakukan tindakan yang melewati batas profesionalisme dan pertemanan. A merasa berhak ikut dalam masalah B karena telah memberikan referensi sehingga B bisa diterima bekerja.

 

Sekilas membaca ilustrasi di atas, adakah yang mau berada dalam posisi B?

Alangkah tidak enaknya jika hubungan kerja yang seharusnya dilandasi dasar profesionalisme terusik dengan alasan pertemanan. Saya pribadi tidak mengharamkan adanya hubungan lain di luar hubungan profesional di dunia kerja. Akan ada banyak kemudahan yang bisa didapat dari hubungan baik atau pertemanan dengan rekan kerja. Tapi, terkadang mengaburnya batasan pertemanan dan profesional di dunia kerja bisa menimbulkan hal baru yang runyam.

Seharusnya masalah yang timbul di dunia kerja adalah masalah profesional. Tidak usah melibatkan hubungan pertemanan atau individu di luar dunia kerja.

Seharusnya hubungan pertemanan atau utang budi antara individu tidak menjadi dasar untuk memecahkan masalah profesional di dunia kerja.

 

Jadi menurut saya, kalau punya waktu untuk berpikir sebelum menerima budi baik orang lain, gunakanlah dengan bijak.

Tidak mau kan profesionalisme kita diganggu gugat karena utang budi di masa lalu? Lebih ekstrimnya, ga mau kan kalo anak cucu kita yang harus membayar utang budi kita sampai mengorbankan profesionalisme mereka?

 

That was just a little thought from me. Terbuka untuk masukan, saran atau opini yang berbeda 😉

Sekali lagi, saya hanya manusia biasa. Bukan orang hebat, bukan siapa2, kalau ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, silakan sampaikan masukan positifnya. Kita hidup di negara demokrasi. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar yang tidak harus disikapi dengan negatif.

 

Cheers ^_^

Advertisements

One thought on “Hati-hati Berutang Budi

  1. Pengalaman pribadi ni kayaknya…hehehehe…
    Sebelum berkomentar… lebih jauh… Dr tulisan sih terbaca bahwa si A sudah denger cerita versi pihak lain yg merasa A hrs bertanggung jawab atas rekomendasinya… Nah si A sudah denger belum cerita versi B?
    Klo belum… Sayang bgt kan pertemanan rusak hanya karna informasi yg ga sempurna.
    Klo sudah… Its ok… Semua org bebas untuk bersikap.
    Asaall… Sebelum bersikap sudah ditimbang plus minus dan efek kedepannya. Truuusss… Think… Does the act make u a better person?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s