Unitlink: Yay or Nay?

Sebelum libur lebaran, bolehlah saya menulis sesuatu yang kedengerannya agak ‘berat’ ya 😀

Saya bukan seorang financial planer profesional. Tapi sedikit banyak cukup mengerti cara kerja unitlink.

 

Apa itu unitlink?

Pada dasarnya unitlink merupakan gabungan beberapa produk asuransi dan investasi yang disederhanakan dalam 1 bentuk penawaran jasa. Keterangan lengkap tentang unitlink dapat dibaca di sini.

 

Setahu saya, penjualan unitlink ini cukup booming beberapa tahun belakangan. Pengguna jasa asuransi banyak yang tertarik memilih unitlink karena promosi bahwa ‘bayar premi asuransi, ada uang yang dikembalikan dalam bentuk hasil investasi’.

Kedengarannya menarik ya? Biasanya kita bayarin premi asuransi, kalau ga ada klaim ya uangnya hangus. Sekarang beli unitlink, ada atau tidak ada klaim, kita masih mendapatkan hasil berupa nilai investasi.

Premi bulanan yang kita bayarkan dialokasikan untuk pembayaran premi asuransi sendiri dan sebagian diinvestasikan.

 

Jadi, yay donk untuk unitlink?

Jangan buru2, mari kita kita bahas kembali fungsi utama dari asuransi.

insurancedalam

 

Seperti terlihat pada gambar, membeli asuransi ibarat membeli payung.

Sedia payung sebelum hujan (atau panas terik).

Artinya, kita mengalokasikan dana untuk membayar premi bulanan asuransi untuk mendapatkan perlindungan. Apakah itu perlindungan sewaktu2 kita sakit, lalu biaya perawatan di rumah sakit sudah ada yang menanggung, atau amit2, kecelakaan dan meninggal sehingga tidak bisa bekerja lagi, ada sejumlah dana yang diberikan kepada ahli waris.

 

Apakah asuransi sama dengan investasi?

TIDAK!

Istilah yang terkenal dalam investasi adalah ‘Don’t put your eggs in 1 basket”

Yang jika diartikan, jangan menaruh semua uang di 1 tempat.

Ibarat membeli telur, bisa langsung dikonsumsi untuk menjadi makanan hari ini, atau telurnya dibiarkan menetas menjadi ayam yang akan menghasilkan telur atau bisa dijadikan ayam potong 😀

 

Jika asuransi dan investasi berbeda, bukankah lebih baik jika digabungkan dalam 1 produk sehingga sekali keluar uang bisa untuk 2 tujuan?

Well, jika Anda tidak mau repot sih , ya boleh saja 😉

Tapi, benarkan unitlink menguntungkan?

 

Coba  lihat ilustrasi dan perhitungan di bawah ini.

Amir mendapat 2 penawaran asuransi:

  1. Unitlink asuransi kesehatan dan investasi.
    • Besarnya premi yang harus dibayarkan setiap bulan adalah Rp 600.000,-
    • Alokasi untuk pembayaran premi asuransi kesehatan adalah
      • 80% di tahun ke – 1
      • 60% di tahun ke – 2
      • 30% di tahun ke – 3
      • 20% di tahun ke – 4
      • 10% di tahun ke – 5
    • Besarnya pertanggungan dari asuransi kesehatan adalah Rp 500.000,- per hari untuk rawat inap dan Rp 100.000.000,- apabila terjadi kecelakaan
    • Setelah 5 tahun, premi yang dibayarkan 100% untuk investasi, selama nilai investasi minimal Rp 5.000.000,-
  2. Asuransi kesehatan murni
    • besarnya premi yang harus dibayarkan setiap bulan adalah Rp 150.000,- selama 5 tahun.
    • Pertanggungan Rp 600.000,- per hari untuk rawat inap dan Rp 12.000.000,- untuk santunan apabila meninggal dunia

 

Mari kita lihat manfaat yang didapat Amir.

Dari unitlink, Amir akan mendapat pertanggungan lebih besar apabila meninggal dunia, sementara pertanggungan untuk perawatan di rumah sakit nilainya lebih kecil Rp 100.000,- dibandingkan asuransi kesehatan murni.

Sebagian premi yang dibayarkan untuk unitlink dialokasikan untuk investasi sehingga di akhir periode ada sejumlah uang yang bisa didapatkan Amir.

 

Kembali lagi pada fungsi dan tujuan utama dari asuransi yang dibeli Amir.

Jika membeli asuransi kesehatan, maka yang kita beli adalah ‘payung’ untuk melindungi ketika kita harus dirawat di rumah sakit.

Jadi tidak usah berharap akan mendapat uang yang lumayan jumlahnya apabila terjadi kecelakaan atau meninggal.

Belilah asuransi jiwa terpisah apabila kita menjadi tulang punggung keluarga dan ADA orang yang kehidupannya akan terganggu secara finansial apabila kita meninggal.

 

Sekarang mari kita hitung jumlah uang yang harus dikeluarkan Amir untuk membayar premi asuransi kesehatannya:

  • Unitlink asuransi kesehatan dan investasi
    • Tahun ke – 1 : 80% dari 12 x Rp 600.000,- = Rp 5.760.000,-
    • Tahun ke – 2 : 60% dari 12 x Rp 600.000,- = Rp 4.320.000,-
    • Tahun ke – 3 : 30% dari 12 x Rp 600.000,- = Rp 2.160.000,-
    • Tahun ke – 4 : 20% dari 12 x Rp 600.000,- = Rp 1.440.000,-
    • Tahun ke – 5 : 10% dari 12 x Rp 600.000,- = Rp 720.000,-
    • Total pembayaran premi bulanan: 5 x 12 x Rp 600.000,- = Rp. 36.000.000,- di mana Rp 14.400.000,- untuk asuransi kesehatan dan Rp 21.600.000,- untuk investasi

 

  • Asuransi kesehatan murni
    • Total pembayaran premi: 5 x 12 x Rp 150.000,- = Rp 9.000.000,-

 

Ternyata pembayaran premi untuk asuransi kesehatan dalam unitlink jauh lebih mahal dibandingkan asuransi kesehatan murni ya?

Tapi tapi, kan pertanggungan unitlink 5 tahun plus selama dana investasi minimal Rp 5.000.000,- ?

 

Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan 1 jawaban singkat: ingat time value of money 😉

Apa lagi sih itu?

time value of money

 

Tau inflasi donk ya?

Setiap tahun pemerintah menetapkan nilai inflasi, di mana jumlah uang yang sama akan mengalami penurunan daya beli di tahun berikutnya.

Jadi, 100 ribu yang kita miliki tahun ini, akan berbeda nilainya dengan 100 ribu di tahun depan.

Jumlah uangnya akan tetap sama 100 ribu, tapi daya belinya akan berbeda yang mengakibatkan penurunan nilai uang tersebut.

 

Inflasi inilah yang menyebabkan kita harus memperhitungkan time value of money di saat berinvestasi.

Hasil investasi yang kita dapat harus melebihi nilai inflasi setiap tahunnya. Jika tidak, telur yang kita beli tadi tidak menetas menjadi anak ayam, melainkan tetap menjadi telur yang cuma bisa diceplok atau didadar 🙂

 

Nah, time value of money ini pula yang harus diperhatikan saat kita membeli unitlink.

 

Benar, ketika membeli unitlink Amir akan mendapat perlindungan kesehatan lebih dari 5 tahun.

Yang harus diingat, jumlah pertanggungan yang diterima Amir setelah 5 tahun membayar premi adalah tetap Rp 500.000,- per hari untuk rawat inap.

Apakah jumlah pertanggungan tersebut masih cukup untuk membiayai rumah sakit 5 tahun yang akan datang?

Yah, mungkin tahun ini bisa masuk kamar kelas 2; 5 tahun lagi cuma bisa membayar kamar kelas 3 🙂

 

Saya sendiri lebih setuju untuk membeli asuransi kesehatan murni dengan tenggang waktu 3 – 5 tahun.

Setelah 1 premi asuransi selesai, pilih premi dan pertanggungan yang sesuai dengan kondisi 3 – 5 tahun yang akan datang 🙂

Lalu, selisih dana Rp 27.000.000,- yang bisa dihemat apabila membeli asuransi kesehatan murni, bisa saya alokasikan untuk investasi sendiri.

Jika tidak pintar bermain saham, masukkan sebagian tersebut ke reksadana unggulan yang sudah terbukti memberi return yang bagus.

Jika khawatir dengan kondisi pasar modal, sebagian bisa dibelikan emas batangan.

Jika masih punya dana lebih, bisa dipakai untuk membeli tanah atau DP rumah.

Telur yang sama, saya masukkan dalam 3 keranjang berbeda 🙂

 

Jadi, unitlink: yay or nay?

It’s definitely a NAY for me 😉

How about you?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s