Unitlink: Yay or Nay?

Sebelum libur lebaran, bolehlah saya menulis sesuatu yang kedengerannya agak ‘berat’ ya 😀

Saya bukan seorang financial planer profesional. Tapi sedikit banyak cukup mengerti cara kerja unitlink.

 

Apa itu unitlink?

Pada dasarnya unitlink merupakan gabungan beberapa produk asuransi dan investasi yang disederhanakan dalam 1 bentuk penawaran jasa. Keterangan lengkap tentang unitlink dapat dibaca di sini.

 

Setahu saya, penjualan unitlink ini cukup booming beberapa tahun belakangan. Pengguna jasa asuransi banyak yang tertarik memilih unitlink karena promosi bahwa ‘bayar premi asuransi, ada uang yang dikembalikan dalam bentuk hasil investasi’.

Kedengarannya menarik ya? Biasanya kita bayarin premi asuransi, kalau ga ada klaim ya uangnya hangus. Sekarang beli unitlink, ada atau tidak ada klaim, kita masih mendapatkan hasil berupa nilai investasi.

Premi bulanan yang kita bayarkan dialokasikan untuk pembayaran premi asuransi sendiri dan sebagian diinvestasikan.

 

Jadi, yay donk untuk unitlink?

Continue reading

Advertisements

Berdamai dan Menurunkan Standar

Sering kali, kita sebagai manusia dihadapkan pada keadaan yang tidak bisa kita terima, namun tidak bisa pula melakukan sesuatu untuk mengubah kondisi itu.

 

Itulah yang saya alami ketika hati kecil saya berteriak untuk memberikan kehidupan yang layak bagi seekor anjing kecil PELIHARAAN orang lain.

Peliharaan tidak berarti sang anjing kecil itu mendapat kasih sayang yang cukup dan kondisi yang cocok untuk perkembangannya.

Cipot

Cipot, Cepot atau entah siapa nama yang diberikan untuk memanggil anjing kecil ini. Usianya sekitar 3-4 bulan, di mana seharusnya hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain atau tidur.

Sayangnya, sang pemilik mempunyai ‘ide’ untuk melatihnya menjadi anjing penjaga dan MERANTAI Cipot di kandang kecil dekat pos satpam setiap harinya.

Makan, minum, tidur, sampai buang air dilakukannya di tempat itu. Tanpa ada yang mengajak bermain atau jalan-jalan.

Kondisi dirantai hampir 24 jam membuat Cipot sangat marah pada rantainya. Karena kasihan, seringkali Cipot dibawa pulang ke rumah untuk diajak bermain, dimandikan dan diberi obat cacing. Kondisi saat kami pertama mendekatinya jelas cacingan parah karena perutnya buncit tidak wajar.

Kebencian Cipot pada rantai membuatnya ganas setiap kali akan dipakaikan rantai. Gigitan demi gigitan dilontarkan demi memperjuangkan kebebasannya, hingga puncaknya minggu lalu jari adik saya terpaksa mendapat 2 jahitan karena refleks menarik tangannya ketika Cipot menggigit.

 

Salah siapa sampai anjing kecil dalam usia senang main menjadi ganas seperti itu?

Salah KITA, MANUSIA, yang merasa superior dan berhak melakukan apa saja terhadap hewan yang dibeli dan kita cap sebagai peliharaan.

Di rumah saya ada 4 ekor anjing yang selalu ‘menyerahkan leher’ untuk dirantai dengan sukarela setiap kali ada tamu yang datang. Mengapa? Karena keempat anjing ini selalu diberikan kebebasan untuk berkeliaran di halaman (bahkan di dalam) rumah ketika hanya kami, penghuni rumah yang ada.

Berulang kali kami yang peduli pada Cipot mencoba berbicara pada pemiliknya, memberitahu hal yang seharusnya dilakukan demi kebaikan Cipot. Tapi apa yang kami bicarakan hanya dianggap angin lalu.

 

Saya kesal. Saya marah.

Tapi saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan.

Cipot “peliharaan” orang lain.

Yang bisa saya lakukan adalah memposting foto dan cerita Cipot ke social media, berharap komunitas pecinta anjing mau me-rescue atau sekedar memberikan pengarahan kepada pemiliknya.

Sampai saat ini saya  belum mendapat respon.

Saya tidak tahu apakah kasus Cipot dianggap tidak urgent atau ada alasan lain.

 

Pada akhirnya, saya hanya bisa berdamai dengan keadaan dengan cara menurunkan standar saya.

Standar untuk hidup yang layak bagi seekor anjing adalah mempunyai ruang dan kebebasan untuk bermain, memiliki tempat yang layak untuk tidur, dan punya orang-orang yang dengan senang hati membelai dan mengajaknya jalan-jalan.

Standar itu hanya bisa saya terapkan pada keempat anjing saya.

 

Saat ini, yang bisa saya lakukan adalah membawa Cipot ke rumah untuk bermain ketika saya punya waktu (biasanya weekend) dan memberinya makanan serta perawatan yang layak seperti susu, mandi dan obat cacing.

Jika Cipot bisa bicara, pasti dia sudah protes menuntut hak.

Tapi hanya dengan gonggongan dan kibasan ekor, saya bisa melihat kebahagiaannya ketika kami yang peduli ‘membebaskan’nya meski hanya untuk hitungan jam.

Dan bagi saya, saat ini cukup, karena saya sudah melakukan apa yang saya bisa.

 

Semoga ada orang lain yang bisa menyelematkan Cipot.

Kami selalu berdoa untukmu 🙂

Nasi Tempong

Weekend… Hari ke-7 #25HariMenulis…

Mari kita ngomongin makanan, mana saya juga lagi laper belum sarapan 😛

 

Nah, saya pengen review makanan yang aslinya khas Banyuwangi, tapi malah saya temukan di kunjungan ke Bali awal Agustus ini.

Awalnya penasaran, apaan sih Nasi Tempong? Namanya lucu banget. Akhirnya setelah konsul ama si Mbah, saya pun dapat gambaran, makanan seperti apa sih Nasi Tempong itu.

Kalo ngebayangin jenis nasi yang aneh2, ngalahin nasi uduk, nasi liwet atau nasi kuning yang nasinya memang diolah dengan bahan lain, Anda salah besar. Nasi tempong itu sama persis seperti nasi biasa.

Tempong sendiri berarti tempeleng. Ternyata, asal muasalnya berasal dari sambal yang disajikan  bersama paket nasi lengkap dengan lauk pauk seperti di bawah ini.

Nasi Tempong

Nasi Tempong Udang Bakar

Sambal yang di piring kecil itu tuh.. Yang super duper pedas, jadi setelah makan memang bisa sakit kepala seperti berasa abis ditempeleng. Keliatan ga kalo sambelnya udah saya campur ama kecap manis? Di akhir sesi makan, sambalnya masih sisa banyak ajah saking pedesnya -_-

Si nasi tempong itu sendiri bisa disajikan dengan menu apapun. Karena yang menjadi ciri khas memang hanya si sambal. Saya mencoba nasi tempong udang bakar, yang menurut saya, bumbu udang bakarnya cukup gurih. Begitu pun dengan iga bakar yang dipesan adik saya. Beneran bedanya cuma di jenis lauk yang dipesan. Sisanya, podo. Ya nasi, ya tahu tempe goreng, ya lalap, ya bakwan jagung mini 😀

Nasi tempong ini ga disarankan ya bagi yang punya perut super sensitif. Atau kalo mo nyoba tanpa sensasi ditempeleng sih silakan saja sambalnya di-skip, tapi ga berasa donk makan nasi tempong beneran :LOL:

Sekian review kali ini… Ada yang mau hunting nasi tempong untuk lunch mungkin? 😉

Hunger Games

#Day2 #25HariMenulis

Kali ini saya pengen membahas The Hunger Games. Sudah agak lama tidak membahas buku atau film terlebih karena blog ini juga jarang diupdate.

Nah, kebetulan banget judul kali ini adalah buku yang sudah diangkat ke film layar lebar di awal tahun ini. Saya sendiri lebh dulu menonton filmnya daripada membaca bukunya. Baca bukunya pun baru selesai semalam. Itupun e-book 😀 Yah, my bad, kadang suka ga terlalu telaten merawat buku, jadi agak jarang beli buku. Berhubung satu resolusi tambah umur adalah lebih banyak membaca, e-book juga gapapa lah ya… Yang penting buku, dan paperless 😀 *ngeles*

Okay, balik ke topik, awal menonton film Hunger Games ini pun, karena penasaran. Teman yang sudah membaca bukunya sangat penasaran bagaimana jika cerita ini difilmkan. Dan setelah menanyakan pendapatnya atas film ini dan dijawab recommended, saya pun nonton. Meski sama sekali blank genre-nya apa ceritanya bakal seperti apa.

Tapi ternyata memang tidak menyesal. Buat saya cerita dan alur film ini menarik.

Continue reading

Hati-hati Berutang Budi

Utang budi itu sebenarnya apa sih?

Yang saya tau sih, utang budi itu terjadi ketika seseorang memberikan bantuan non-materi kepada kita, yang tidak dapat kita bayar secara persis sama karena tidak ada alat ukurnya.

Bukankah manusia adalah makhluk sosial? Jadi wajar saja untuk saling membantu, lalu mengapa harus berhati-hati berutang budi kepada orang lain?

Continue reading